Allah azza wajalla berfirman :

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ  ١٣٤

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Allah menyebutkan lima kriteria orang-orang bertakwa di ayat ini. Yaitu orang-orang yang menghindari kemurkaan Allah dengan menunaikan seluruh perintah-Nya dan menjauhi hal yang diharamkan oleh-Nya, serta tidak melanggar batasan yang ditetapkan oleh-Nya. Orang-orang seperti inilah yang dikatakan bertakwa.

Di antara kriteria yang Allah sebutkan adalah mereka yang senantiasa berinfak sekalipun dalam kondisi sempit, terlebih lapang. Kemudian di ayat setelahnya Allah melanjutkan :

(وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ)

Hal-hal yang dibenci akan selalu kita dapatkan dalam hidup, tapi orang-orang bertakwa mereka menahan diri dari memperturutkan rasa marah yang mengganjal di hati, mereka berharap pahala dari apa yang mereka lakukan. Para penuntut ilmu, hendaknya memiliki jiwa yang demikian, yang tidak mudah tersulut emosinya. Manusia ini bisa meradang dengan banyak sebab, tapi jika ia memilih untuk memaafkan dan berbuat baik kepada yang bersalah, niscaya hal itu menjadi nilai kebaikan bagi dirinya. Jika memang harus membalas, maka sejatinya tidak masalah selama tepat sasaran. Tidak setiap memperturutkan untuk membalas itu baik dan tidak setiap memaafkan kesalahan juga kebaikan. Semua kembali ke bagaimana maslahat yang timbul setelahnya.

Dalam ayat lain Allah azza wajalla berfirman :

وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَابَهُمُ ٱلۡبَغۡيُ هُمۡ يَنتَصِرُونَ  ٣٩

“Dan ( bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri.”

Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa seorang diperbolehkan memilih memaafkan dan membalas dengan melihat mana yang lebih baik di antara keduanya. Jika memang dimaafkan akan membuat keadaan lebih baik, maka hendaknya ia memaafkan. Namun jika kelaliman semakin menjadi, maka tidak mengapa ia membalas.

 

(Diterjemahkan dari kajian Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullahu)

 

| Disusun & Dipublikasi oleh Tim Ilmiah Elfadis 

Tanggal : 23 Rabi’ul Akhir 1441 H

 

______

.Follow dan support akun kami :

 

? Web | lorongfaradisa.or.id

? Youtube : https://www.youtube.com/channel/UCodayMWz3OkBrzliF87YoOw.

? Telegram : @lorongfaradisa.

? Instagram : Instagram.com/elfadis__

? Facebook : facebook.com/lorongfaradisa.

___

Share agar lebih bermanfaat