(Travel Sunnah/Perumahan Sunnah/Pengobatan Sunnah, Dll)

 

Gelombang dakwah sunnah yang memiliki pola pemurnian konsep keagamaan agar sesuai dengan tuntunan Rasulullah seakan air bah yang membanjiri setiap lini masyarakat. Di perkotaan dakwah sunnah menjamur memuaskan masyarakat yang haus akan spiritualitas. Konsep kembali kepada salaf(sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in) menjadi pola yang paling mudah dicerna akal sehat memberikan warna menarik dalam metode beragama masyarakat. Baik dari kalangan atas maupun kalangan bawah. Ngaji sunnah menjadi tren tersendiri. Dan terciptalah komunitas yang mengatasnamakan “sunnah”, perkumpulan sunnah ; Bikers Sunnah Indonesia, Akhwat Sunnah, Ikhwan Sunnah, Polisi Cinta Sunnah, dsb.

Gelombang besar ini kemudian diliat berprospek oleh para pengusaha dan lahirlah produk-produk yang menunjang berbagai problem dan kebutuhan komunitas ‘sunnah’. Herbal memeriahkan pasar Indonesia. Kurma, habbatus sauda, madu yang di dalam literature islam disebut sebagai obat yang nabi anjurkan untuk dikonsumsi tersedia hampir di setiap tempat. Label sunnah bahkan dikembangkan menjadi identity branding untuk menarik konsumen. Label ini seakan melegitimasi dan menjadi alat rekomendasi. Lahirlah perumahan sunnah, travel sunnah, toko buku sunnah, dan berbagai produk lainnya.

Maka jika dilihat dari tinjauan syar’i makna sunnah sebenarnya cukup sakral dan erat kaitannnya dengan ideology keagaamaan. Sesuatu yang dikaitkan dengan ‘sunnah’ biasanya sandaran terhadap syariat Allah dan Rasul-Nya. Dalam kalangan Ahlu Hadis sunnah bermakna apa saja yang disandarkan kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, baik dari perkataan, perbuatan, sifat-sifat beliau dan persetujuan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, di kalangan ahli fiqh makna sunnah ialah ; apa yang jika seseorang mengerjakannya mendapatkan pahala dan jika ia meninggalkan tidak mendapat dosa(Tadwin As-Sunnah ; 2000). Maka sudah seharusnya kita tidak terlalu berlebihan dalam berimprovisasi atas kata ‘sunnah’. Kita takutkan terjatuh kedalam orang-orang yang nabi sebutkan dalam hadisnya : 

(مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ)

"Barangsiapa berdusta terhadapku maka hendaklah ia persiapkan tempat duduknya di neraka." (HR. Bukhari : 104)

 

Mengaitkan produk yang kita jual dengan kalimat sunnah sangat besar kemungkinan mengaitkannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. 

 

Terlebih lagi mereka yang setelah menjadikan label ‘sunnah’ sebagai nilai jual produk. Namun, nilai-nilai sunnah nya justru ditinggalkan. Muamalah jual-beli yang Rasulullah ajarkan tidak dipraktekan, amanah tidak dijaga, maka orang-orang seperti ini justru telah mengotori sunnah Rasullah shallallahu ‘alaihi wasallama.


 

| Disusun & Dipublikasi oleh Tim Ilmiah Elfadis 

Tanggal : 09 Jumadal ‘Ula 1441 H

________________

Silahkan bergabung dan mendapatkan tulisan, audio, video serta jadwal kajian Ust. Dr. Syafiq Riza Basalamah di :

 

Facebook           :

 Syafiq Riza Basalamah Official /  https://www.facebook.com/SyafiqRizaBa...

 

Instagram            :

 Syafiq Riza Basalamah Official 

 

Twitter    : 

 Syafiq Riza Basalamah Official @ustadzsyafiq

 

Telegram : 

  Syafiq Riza Basalamah Official / @SRB_Official

 

Website   : 

   http://syafiqrizabasalamah.com/