Segala pujian hanya milik Allah azza wajalla. Shalawat serta salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad, keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti jejak beliau hingga hari kiamat. Amma ba’du 

Kini kita telah mendekati bulan yang dinanti-nantikan oleh setiap orang yang beriman. Bulan yang di dalamnya penuh dengan keberkahan dan ampunan dari Allah subhanahu wata’ala. Bulan yang membuncahkan rasa rindu yang selama beberapa bulan sebelumnya menangis karena berpisah dengannya. Ialah bulan Ramadhan, yang Al Quran turun di dalamnya. Ialah bulan Ramadhan, yang apabila seorang beribadah dengan penuh iman dan rasa harap, maka ia keluar dari bulan tersebut dalam keadaan terampuni. 

Namun pertanyaan yang tak kalah penting adalah seberapa siap bekal kita menghadapi bulan yang mulia ini.  Abu Bakar al Balkhy rahimahullahu pernah mengungkapkan : 

شهر رجب شهر الزرع، وشهر شعبان شهر سقي الزرع، وشهر رمضان شهر حصاد الزرع 

“Bulan Rajab adalah saat di mana seorang mulai bercocok tanam, bulan Sya’ban adalah waktu yang tepat untuk mengairinya, dan di bulan Ramadhan lah ia memanen apa yang telah dipanennya.” 

(Lathaif al Ma’arif, Ibnu Rajab al Hanbaly, cet. Daar Ibn Hazm, hlm. 121) 

Sebagian lagi memberikan petuah : 

السنة مثل الشجرة وشهر رجب أيام توريقها وشعبان أيام تفريعها ورمضان أيام قطفها والمؤمنون قطافها جدير بمن سود صحيفته بالذنوب أن يبيضها بالتوبة في هذا الشهر وبمن ضيع عمره في البطالة أن يغتنم فيه ما بقي من العمر 

“Tahun ini ibarat sebuah pohon, dengan bulan Rajab sebagai dedauanannya, Sya’ban laksana rantingnya, dan Ramadhan adalah buahnya. Yang berhak memanennya adalah orang-orang yang beriman. Oleh karenanya, duhai yang tiap waktu menghitamkan catatan amalnya dengan maksiat, inilah kesempatan kita untuk bertaubat. Dan siapa saja yang telah menyiakan waktunya selama ini, manfaatkan detik-detik ketaatan di waktu ini.” 

Oleh karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama tatkala ditanya tentang alasan beliau berpuasa di bulan Sya’ban, beliau bersabda: 

ذاك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم 

“Itu adalah bulan di mana kebanyakan manusia lalai, karena terletak di antara bulan Rajab dan Ramadhan, padahal saat itu adalah saat amalan manusia di angkat. Aku lebih suka amalanku diangkat dalam keadaan berpuasa.” 

(HR. Ahmad 21753) 

Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama yang merupakan sosok terbaik dari zaman dahulu hingga sekarang, yang dosanya terdahulu maupun akan dating telah terampuni, tetap mempersiapkan sebaik mungkin kedatangan bulan Ramadhan, maka bagaimana persiapan kita yang tidak ada jaminan meninggal dalam keadaan beriman? Berikut amalan yang bisa kita biasakan di bulan Sya’ban sekaligus untuk persiapan menyambut bulan Ramadhan : 

 

  1. Memperbanyak Puasa 

Diceritakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu: 

وما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصوم في شهر ما يصوم في شعبان، كان يصومه كله إلا قليلا بل كان يصومه كله» 

“Tidaklah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama berpuasa sebagaimana puasa beliau di bulan Sya’ban. Dulu beliau berpuasa hampir sebulan penuh di bulan Sya’ban.” 

(HR. An Nasa’iy 2178) 

Ibnu Rajab al Hanbaly rahimahullahu menyebutkan tentang hikmah dari kebiasaan beliau berpuasa di bulan Sya’ban : 

فظهر بهذا أفضل التطوع ما كان قريبا من رمضان قبله وبعده وذلك يلتحق بصيام رمضان لقربه منه وتكون منزلته من الصيام بمنزلة السنن الرواتب مع الفرائض قبلها وبعدها فيلتحق بالفرائض في الفضل وهي تكملة لنقص الفرائض وكذلك صيام ما قبل رمضان وبعده فكما أن السنن الرواتب أفضل من التطوع المطلق بالصلاة فكذلك صيام ما قبل رمضان وبعده أفضل من صيام ما بعد منه. 

“Dengan ini, didapatkan bahwa sunnah yang utama adalah sunnah yang berdekatan dengan bulan Ramadhan, baik sebelum ataupun sesudahnya. Kedudukannya sebagaimana kedudukan shalat sunnah Rawatib terhadap shalat Fardhu. Sebagai pelengkap terhadap kekurangan selama mengerjakan ibadah yang sifatnya wajib. Begitupun puasa sebelum atau sesudah Ramadhan lebih utama dibandingkan jenis ibadah puasa mutlak lainnya. 

(Lathaif al Ma’aarif, Ibnu Rajab al Hanbaly, cet. Dar Ibnu Hazm, hlm. 129) 

 

  1. Memperbanyak Ketaatan 

Karena bulan Sya’ban adalah bulan di mana kita mempersiapkan masa panen kita, hendaknya persiapan tersebut tidak main-main. Kebiasaan yang baik di bulan Ramadhan tidak akan tumbuh dengan kebiasaan bermalasan di bulan sebelumnya, terlebih bulan Sya’ban. Tidakkah kita melihat bahwa seorang yang hendak mengikuti sebuah perlombaan akan begitu bersemangat mempersiapkannya ketika mendekati hari perlombaan? Maka bagaimana mungkin seorang mukmin tidak antusias menyambut kedatangan Ramadhan dengan semangat ibadahnya di bulan Sya’ban? 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama mengungkapkan : 

ذاك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان 

“Itu adalah bulan di mana kebanyakan manusia lalai, karena terletak di antara bulan Rajab dan Ramadhan”. 

Karena terletak di antara dua bulan mulia yang lain, maka seolah manusia lupa bahwa di tengah dua bulan tersebut juga merupakan di antara bulan yang Allah muliakan. Sebagaimana kita semua sering lalai dengan keutamaan berdzikir kepada Allah di pertengahan malam. Ibnu Rajab rahimahullahu mengutarakan :  

قد يكون غيره أفضل منه إما مطلقا أو لخصوصية فيه لا يتفطن لها أكثر الناس فيشتغلون بالمشهور عنه ويفوتون تحصيل فضيلة ما ليس بمشهور عندهم وفيه دليل على استحباب عمارة أوقات غفلة الناس بالطاعة 

“Boleh jadi bulan lainnya lebih baik dari Sya’ban baik karena ada sebab khusus ataupun secara mutlak, namun jangan menjadikan mereka lupa dengan bulan Sya’ban yang tidak popular di kalangan mereka. Hal ini merupakan dalil disunnahkannya meramaikan waktu-waktu di saat manusia lupa dengan amalan ketaatan”. 

(Lathaif al Ma’aarif, Ibnu Rajab al Hanbaly, cet. Dar Ibnu Hazm, hlm. 131) 

 

  1. Memperbanyak Membaca Al Qur’an 

Karena kehadiran bulan Sya’ban laksana pintu menuju bulan Ramadhan, maka kebiasaan baik yang hendak dihadirkan di bulan Ramadhan harus mulai dirutikan di bulan sebelumnya, di antaranya adalah membaca Al Qur’an. Ibnu Rajab Al Hanbaly rahimahullahu menyebutkan : 

ولما كان شعبان كالمقدمة لرمضان شرع فيه ما يشرع في رمضان من الصيام وقراءة القرآن ليحصل التأهب لتلقي رمضان وترتاض النفوس بذلك على طاعة الرحمن 

“Oleh karena Sya’ban adalah gerbang menuju Ramadhan, maka dianjurkan pula di dalamnya kebaikan-kebaikan di bulan Ramadhan, seperti berpuasa dan membaca Al Qur’an, dengan hal tersebut jiwa dan diri telah siap untuk menyambut Ramadhan serta terlatih untuk melakukan ketaatan”. 

(Lathaif al Ma’aarif, Ibnu Rajab al Hanbaly, cet. Dar Ibnu Hazm, hlm. 135) 

Diceritakan pula oleh Habib bin Abi Tsabit rahimahullahu : 

هذا شهر القراء وكان عمرو بن قيس الملائي إذا دخل شعبان أغلق حانوته وتفرغ لقراءة القرآن 

“Bulan Sya’ban ini laksana bulannya para Qurra’, bahkan Amr bin Qais rahimahullahu tatkala memasuki bulan Sya’ban sesegera mungkin menutup kedainya untuk konsentrasi menghatamkan Al Qur’an” 

(Lathaif al Ma’aarif, Ibnu Rajab al Hanbaly, cet. Dar Ibnu Hazm, hlm. 135) 

 

  1. Bertaubat Kepada Allah Azza wajalla 

Bulan Sya’ban adalah bulan di mana amalan seorang hamba akan diangkat kepada Rabbul alamin, maka hendaknya ia memenuhi amalannya dengan kesucian dan menyingkirkannya dari dosa-dosa. Seorang penyair pernah mengatakan : 

مضى رجب وما أحسنت فيه ... وهذا شهر شعبان المبارك 

فيا من ضيع الأوقات جهلا ... بحرمتها أفق واحذر بوارك 

فسوف تفارق اللذات قسرا ... ويخلي الموت كرها منك دارك 

تدارك ما استطعت من الخطايا ... بتوبة مخلص واجعل مدارك 

على طلب السلامة من جحيم ... فخير ذوي الجرائم من تدارك 

“Bulan Rajab telah berlalu, sungguh banyak tersimpan kebaikan di dalamnya. Kini telah dating bulan yang diberkahi, yaitu bulan Sya’ban. 

Wahai orang-orang yang menyiakan waktu, yang tiada tahu kemuliaan Sya’ban. Wasapadalah karena luput di bulan ini. 

Kelak engkau akan meninggalkan ini semua, suka atau tidak suka. Kematian akan menjemputmu. 

Tempuhlah segala cara untuk menebus kesalahan-kesalahanmu, yaitu dengan taubat yang murni. 

Dan berupayalah untuk mencari keselamatan dari neraka jahannah, ketahuilah bahwa sebaik-baik pelaku dosa adalah yang bertaubat kepada-Nya”. 

(Lathaif al Ma’aarif, Ibnu Rajab al Hanbaly, cet. Dar Ibnu Hazm, hlm. 135) 

Sebagian salaf pernah mengungkapkan : 

كم من مستقبل يوما لا يستكمله ومن مؤمل غدا لا يدركه إنكم لو رأيتم الأجل ومسيره لأبغضتم الأمل وغروره. 

“Berapa banyak dari para pemimpi yang tak sempat menyempurnakan impiannya. Banyak yang sekedar berangan tapi tak sempat mendapati hari esok. Andai saja kalian mengerti tentang ajal kalian yang begitu dekat, niscaya kalian akan mencampakkan terlalu banyak berangan kosong dan tipu muslihatnya”. 

Kita mengangankan kebaikan di bulan Ramadhan, memang sebuah kebaikan, tapi tertipu dan lalai di bulan Sya’ban? Selayaknya hal tersebut kita tinggalkan. Berkemaslah, bersiaplah, sambutlah kedatangan Ramadhan dalam keadaan dosa-dosa kita telah diampuni Allah azza wajalla. Sambutlah Ramadhan dengan penuh senyuman dan ketaatan. 

 

| Disusun & Dipublikasi oleh Tim Ilmiah Elfadis  

Tanggal :  

________________  

Silahkan bergabung dan mendapatkan tulisan, audio, video serta jadwal kajian Ust. Dr. Syafiq Riza Basalamah di :  

Facebook : Syafiq Riza Basalamah Official / https://www.facebook.com/SyafiqRizaBa...  

Instagram : Syafiq Riza Basalamah Official  

Twitter : Syafiq Riza Basalamah Official @ustadzsyafiq  

Telegram : Syafiq Riza Basalamah Official / @SRB_Official  

Website : http://syafiqrizabasalamah.com/