(Diterjemahkan dari kajian Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullahu disertai dengan tambahan penjelasan dari Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’diy)

Segala pujian hanya milik Allah. Shalawat serta salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan orang yang mengikuti jejak beliau. Amma ba’du

Allah azza wajalla berfirman :

(( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْراً مِنْهُمْ وَلا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْراً مِنْهُنَّ وَلا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْأِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ ))

 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.

(QS. Al Hujurat : 11)

            Dalam ayat ini Allah subhanahu wata’ala menjelaskan empat hal yang sangat penting, yaitu :

 

  1.  Larangan Untuk Mengejek Sesama

Mengejek baik antara laki-laki maupun perempuan adalah perbuatan buruk yang dilarang dalam Islam. Karena boleh jadi Allah jadikan orang yang diejek jauh lebih baik daripada dirinya. Allah mengaitkan kewajiban untuk menghindari hal yang diharamkan Allah dengan keimanan. Sebagaiman dalam firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْراً مِنْهُمْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy rahimahullahu mengatakan :

وهذا أيضًا، من حقوق المؤمنين، بعضهم على بعض، أن [ لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ ] بكل كلام، وقول، وفعل دال على تحقير الأخ المسلم، فإن ذلك حرام، لا يجوز، وهو دال على إعجاب الساخر بنفسه، وعسى أن يكون المسخور به خيرًا من الساخر، كما هو الغالب والواقع، فإن السخرية، لا تقع إلا من قلب ممتلئ من مساوئ الأخلاق، متحل بكل خلق ذميم

“Ini juga termasuk pemenuhan hak sesama mukmin yaitu dengan tidak saling mengejek antar sesama. Baik dengan ucapan, perbuatan, yang menunjukkan bentuk meremehkan saudara sendiri. Perbuatan semisal ini dilarang oleh agama. Selain juga menunjukkan bentuk mengagumi diri sendiri padahal boleh jadi yang diejek justru lebih banyak darinya. Ini yang banyak terjadi di tengah-tengah kita. Tidaklah sikap mengejek kecuali berasal dari hati yang buruk dan dihiasi dengan perangai tercela.”

(Tafsir As Sa’diy, Cet. Muassasah Ar Risalah, hlm. 801)

            Maka hendaknya seorang muslim tidak mencela saudaranya baik karena kemiskinan, keburukan rupa, pincang, dan hal lain. Begitupun seorang Muslimah tidak selayaknya mengejek saudarinya. Bahkan wajib bagi keduanya untuk senantiasa bersyukur kepada Allah atas pemberian-Nya dan memuji Allah atas keselamatan yang ia terima dari apa yang ditimpakan kepada saudaranya.

    

  1. Mencela Diri Sendiri

Allah azza wajalla berfirman :

وَلا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ

Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri”.

            Al Lamaz maksudnya adalah aib, yakni ayat ini mengandung larangan kita mencela saudara kita dengan apa yang ujikan kepadanya, baik hartanya yang tidak seberapa, atau kerendahan kedudukannya, atau rupanya, atau yang lain.

            Karena hal ini menyerupai bentuk olok-olok. Sebagaimana sebelumnya, kita berkewajiban untuk memuji dan bersyukur kepada Allah atas seluruh nikmat-Nya dan tidak mencela saudara kita dengan kekurangan yang ada di diri mereka.

            Al Lamaz juga bisa dimaksudkan mencerca kekurangan yang ada di kerabaat kita. Tentu saja maksudnya sama dan hal ini dilarang dalam agama. Juga menjadi sebab terjadinya perselisihan dan permusuhan.

            Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy rahimahullahu mengatakan:

لا يعب بعضكم على بعض، واللمز: بالقول، والهمز: بالفعل، وكلاهما منهي عنه حرام، متوعد عليه بالنار.

“Tidaklah seorang diperkenankan mencela sesamanya, baik dengan al lamaz yaitu ucapan atau al hamaz yaitu dengan perbuatan. Keduanya terlarang dalam syariat dan diancam dengan neraka”.

(Tafsir As Sa’diy, cet. Muassasah Ar Risalah, hlm. 801)

     

  1. Memanggil dengan Panggilan yang Buruk

Allah azza wajalla memberikan larangan berikutnya pada bagian firman-Nya:

وَلا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْأِيمَانِ

dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman.

            Memanggil saudara sendiri dengan panggilan yang buruk atau tidak menyenangkan hati seperti Wahai keledai ! Wahai Fajir ! Wahai Kafir ! Hai si Buruk Rupa ! Hei Pincang ! atau panggulan lainnya yang tidak diridhai olehnya yang boleh jadi berimbas ke permusahan dan saling menyakiti secara fisik.

            Hendaknya seorang memanggil orang lain dengan nama-nama yang baik, nama yang diridhai oleh saudaranya. Misal Wahai fulan (nama Asli) ! Wahai Muhammad ! Wahai Abu Abdillah. Sebisa mungkin dihindari untuk memanggil sesama dengan gelaran yang buruk. Bahkan Allah sematkan gelaran fasiq bagi orang yang enggan meninggalkan praktik yang buruk ini.

            Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy menafsirkan :

لا يعير أحدكم أخاه، ويلقبه بلقب ذم يكره أن يطلق عليه وهذا هو التنابز، وأما الألقاب غير المذمومة، فلا تدخل في هذا.

“Hendaknya seorang menahan lisannya dari mencela saudaranya dan memberikan gelaran apapun yang tidak disukai atau mengandung keburukan. Adapun julukan yang tidak buruk, maka tidak masuk ke dalam larangan ini”.

(Tafsir As Sa’diy, cet. Muassasah Ar Risalah, hlm. 801)

    

  1. Enggan Bertaubat kepada Allah

Dalam bagian ayat berikutnya, Allah subhanahu wata’ala berfirman :

وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.

Allah menjelaskan bahwa barangsiapa yang terus menerus berbuat maksiat dan enggan bertaubat, maka termasuk golongan orang yang dzalim terhadap diri sendiri dan menyerahkan diri terhadap kemurkaan Allah. Sebaliknya, bagi siapa saja yang bertaubat maka sungguh ia beruntung.

Maka hendaknya setiap muslim bersegera untuk meminta ampun kepada Allah terhadap maksiat yang telah ia kerjakan. Menyesali dan bertekad untuk tidak kembali kepada kemaksiatan yang sama. Apabila ia melakukannya dengan tekad yang kuat untuk tidak kembali, makai a akan selamat dari burukan dosa dan Allah akan mengampuninya. Sebaliknya yang enggan bertaubat boleh jadi ia tetap dalam keterpurukan maksiat hingga ajal menjemputnya.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’diy rahimahullahu mengatakan:

فالناس قسمان: ظالم لنفسه غير تائب، وتائب مفلح، ولا ثم قسم ثالث غيرهما.

“Manusia terbagi menjadi dua yaitu orang yang telah berbuat dzalim terhadap dirinya sendiri yaitu orang yang tidak bertaubat atas maksiat yang ia lakukan dan orang beruntung yaitu orang yang bertaubat kepada Allah. Tidak ada jenis ketiga selain itu”.

(Tafsir As Sa’diy, cet. Muassasah Ar Risalah, hlm. 801)

 

| Disusun & Dipublikasi oleh Tim Ilmiah Elfadis 

Tanggal : 14 Sya’ban 1441 H

________________

Silahkan bergabung dan mendapatkan tulisan, audio, video serta jadwal kajian Ust. Dr. Syafiq Riza Basalamah di :

 

Facebook : Syafiq Riza Basalamah Official / https://www.facebook.com/SyafiqRizaBa...

Instagram : Syafiq Riza Basalamah Official

Twitter : Syafiq Riza Basalamah Official @ustadzsyafiq

Telegram : Syafiq Riza Basalamah Official / @SRB_Official

Website : http://syafiqrizabasalamah.com/