Adab Penuntut Ilmu Bersama Guru (1)

Pentingnya Belajar adab

                Mempelajari sedikit adab dan mempraktekannya lebih penting dari pada belajar ilmu. Bahkan Ibnu Mubarok seorang alim ulama yang kaya lagi dermawan pernah pengatakan : “kita lebih membutuhkan sedikit adab daripada banyaknya Ilmu”  Beliau juga pernah berkata “seseorang tidak dikatakan pintar jika mempunyai banyak ilmu namun tidak menghiasi dirinya dengan Adab”

Adab Para Nabi terhadap Guru Mereka

Salah satu kisah yang mengajarkan kita tentang adab Bersama guru adalah kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir. Allah berfirman Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?" (18: 66)

Imam Arrazi Berkata : ayat ini menjelaskan betapa Nabi Musa menjaga adab-adab dan kelembutan ketika ia menuntut ilmu kepada Nabi Khidir”

Dan diantara Adab-adab yang diperhatikan Nabi Musa dalam ayat ini adalah

  1. Menjadikan dirinya patuh dan menuruti apa yang dikatakan khidir.
  2. Meminta izin kepada Khidir untuk ikut dan mempelajari sebagian ilmu yang Allah ajarkan padanya. Dan ini adalah bentuk ketawadhuan beliau alaihi salam dan memposisikan dirinya sebagai murid sekalipun ia adalah nabi yang Allah bicara langsung padanya, dan Allah turunkan taurat padanya.
  3. Mengakui kelebihan sang guru, dan Nabi Musa mengakui ilmu yang Allah berikan kepada Nabi Khidir yang ia tidak ketahui.
  4. Meminta bimbingan dan petunjuk dari Nabi Khidir atas apa yang ia tidak ketahui
  5. Ilmu itu dicari dan didatangi. Kita lihat bagaimana Musa mendatangi Khidir untuk mendapatkan ilmu. Ia pun bersabar mengikuti Khidir dan mendapatkan ilmu atas kesabaran dan ketawadhuannya alaihi salam.

Adab Para Sahabat kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam

                Sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam bermajelis menuntut ilmu dari nabi, mereka sangat menyunjung adab, baik ketika bertanya, mendengarkan bahkan cara duduk dan bergerak pun mereka perhatian.

                Dari Usamah bin syarik, beliau pernah berkata: suatu hari aku mendatangi majlis rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan aku melihat para sahabat duduk seperti diatas kepala mereka ada burung yang hinggap.

                Para ulama mengatakan bahwa, di sini ada dua tafsir:

  1. Sesungguhnya seekor burung itu hinggap di tempat yg ranting yang tenang tak bergerak, seperti itulah keadaan duduk para sahabat. Mereka duduk dengan tenang dan dengan merendahkan kepala mereka dan tidak bergerak seakan-akan burung telah hinggap di kepala mereka dan mereka takut burung itu akan terbang.
  2. Tafsir yang kedua, seperti perkataan Nabi Sulaiman kepada burung-burung pasukanya: “wahai burung-burung payungi kami!” Nabi Sulaiman menyuruh para Burung untuk meneduhi dia dan pasukannya. Burung-burung itu patuh dan meneduhi serta memayungi Nabi Sulaiman ‘alaihi salam  sebagai bentuk kepatuhan dan pengagungan mereka kepada Nabi Allah. Begitu pula Para sahabat mereka menundukan pandangan sebagai bentuk pengagungan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, mereka khusuk, tenang dan tidak bergerak takut mengganggu konsentrasi Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Penggambaran yang cara duduk seorang murid kepada gurunya seperti duduknya Jibril alaihi wasallam dari hadis Umar radhiallahu anhu “ ..Maka ia sandarkan kedua lututnya kepada lutut shallallahu alaihi wasallam, dan meletakkan dua telapak tangannya ke kedua paha nabi shallallahu alaihi wasallam”

Jadi para sahabat duduk dengan punggung tegak, menundukkan kepala dan merapatkan kedua lututnya, mereka tidak bergerak seakan-akan ada burung di kepala mereka.

 

Diambil dari ceramah Ust Syafiq Riza Basalamah dengan tema “Adab Bersama Ustad”

Dan disimpulkan dari kitab “Adabul muta’alim tijaahal mu’allim fii taarikhina alilmi”