KHUTBAH SHOLAT IEDUL FITRI 1 SYAWAL 1440 H

Dr. Ustadz Syafiq Riza Basalamah MA

 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

-

-

-


 

Pernahkah kita melihat manusia yang hidup tidak disiplin ? hidup tidak beraturan, makan seenaknya, buang kotoran semaunya, tidur sesukanya, bangun sebangunnya, berpakaian seenaknya, bekerja secapeknya, semua dia lakukan mengikutin hawa nafsunya, mengikuti syahwatnya, yang penting buat dia happy, yang penting buat dia, dia gembira, manusia seperti ini kalau ada diantara kita, kata Allah Azza Wa Jalla dalam (QS. Al-A’raaf :179) mereka seperti sapi, mereka seperti unta, mereka seperti kambing. Tidak jama’ah, mereka tidak seperti itu, mereka lebih parah daripada itu semua, mereka adalah manusia-manusia yang lalai dalam kehidupannya.

اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَر اَللَّهُ اَكْبَرْ ـ لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ ـ اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَرْ وَلِلَهِ الْحَمْدُ

Ma’asyral Muslimin, seorang mukmin hidupnya disiplin, dia mengikuti aturan, dan bukan membuat aturan semau dia. Dia mengikuti perintah, dan bukan mensiasati untuk menolak perintah. 

Kita bisa lihat, kenapa 1 bulan penuh dibulan Ramadhan kita tidak makan di siang hari, kita tidak minum di siang hari, kita tidak mendekati syahwat kita, dan kenapa hari ini kita harus makan ? malahan wajib hari ini kita makan dan minum, bahkan haram bagi seorang yang ingin puasa dihari ini, kenapa seperti itu ? kemarin yang diharamkan, sekarang diwajibkan, itulah seorang mukmin, dia diciptakan untuk mengabdi kepada Allah Azza Wa Jalla.

Allah Ta’ala Berfirman :

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)”. (Al-Qiyamah : 36)

أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَىٰ

“Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim)”. (Al-Qiyamah : 37)

ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّىٰ

“Kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya”. (Al-Qiyamah : 38)

    Hari ini tanggal 1 syawal 1440 H, setiap muslim di Indonesia dan dibelahan dunia lainnya dengan gegap gempita bertakbir membesarkan nama Allah Azza Wa Jalla, lalu kenapa kemarin kita bertakbir, kenapa besok kita tidak bertakbir ? Na’am, aturannya seperti itu, kembali kita mengikuti aturan. Ahibbati Fillah, Ramadhan yang telah lalu, telah mengajarkan kepada kita, telah banyak pelajaran indah, kita dididik untuk mengontrol nafsu, untuk mengontrol perut kita, untuk mencapai tingkat taqwa.

Didalam kehidupan dunia kita bisa melihat, orang yang biasa memiliki pola makan yang sembarangan, dia akan riskan terkena penyakit, orang yang tidak peduli dengan kebersihan makanan yang masuk kemulutnya sendiri, biasanya dia akan terkena diare, dan ketahuilah hampir seluruh penyakit itu dimulai dari perut.

Jamaah Rahimakumullah, Jika kita perhatikan, diakhir-akhir ini manusia semua ingin hidup sehat, dan Alhamdulillah banyak laboratorium yang membantu kia untuk mengecheck kondisi tubuh kita, untuk memastikan sehatkah kita atau sakit, atau adakah penyakit yang sedang berkembang didalam tubuh kita. Bahkan manusia berusaha untuk membuat makanan-makanan yang sehat.

 Sebagaimana kita ingin tubuh ini selama berada dimuka bumi untuk selalu sehat wal ‘afiat, tidak ingin terjangkit penyakit apapun, dalam kehidupan yang sementara, dalam kehidupan yang hanya 60 tahun,yang hanya 70 tahun kita peduli dengan apa yang masuk kedalam perut kita, bahkan sebagian orang jika sudah sakit dia akan ikut aturan dokter, bahkan dia rutin untuk mengontrol, meminum obat, dan membayar agar sehat.

Yang perlu kita pertanyakan, tidakkah kita ingin hidup sehat wal afiat diakhirat ? pernahkah kita berfikir, apakah yang selama ini yang masuk ke rumah kita, yang masuk ke perut kita, yang kita berikan kepada istri dan anak-anak kita, apakah tidak menyebabkan penyakit bagi mereka ?

Wallahi jamaah, kalau kita sakit dimuka bumi ini, masih ada harapan untuk sembuh. Tetapi takkala kita memakan yang haram, kita mengkomsumsi yang dibenci oleh Allah Azza Wa Jalla, apa kata Rasulullah Salallahu’alaihi Wa Sallam ?

Dari Ka’ab bin ‘Ujrah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdabda :

يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحتٍ إلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَولَى بِهِ

Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah, tidaklah daging manusia tumbuh dari barang yang haram kecuali neraka lebih utama atasnya. [HR. Tirmidzi]

Daging yang mana saja, baik yang ditangan kita, atau yang didada kita, ataukah kaki kita, mana saja daging yang tumbuh dari hasil yang haram, nerakalah tempatnya. Apa makanan disana ? Ghisliin, Zaqum, Dhari’. Apa minuman yang akan didapat bagi orang yang sembarangan membawa harta kerumahnya ? mereka akan diberi minuman yang akan membuat usus merea terburai terpotong-potong. Ahibbati Fillah, Allah Azza Wa Jalla, memberikan kepada kita aturan, apa yang boleh kita makan, dan apa yang tidak boleh kita makan.

Sebulan penuh kita membaca Al-Quran, sebagian hatam 2 kali, sebagian hatam 3 kali, tapi pernahkah kia merenungi ayat-ayat aturan Allah Azza Wa Jalla, kemudian kita mengamalkannya ? jika sebagian dari kita tidak mengerti (basaha Arab), bacalah artinya.

Allah Azza Wa Jalla Berfirman dalam Surat An-Nisa Ayat 29

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا 

 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”.

Ayat diatas, adalah ayat panggilan Allah bagi hamba-hambanya yang beriman, yang tahu bahwa dirinya diciptakan dengan aturan dari Allah Azza Wa Jalla. Allah menjelaskan kepada kita tentang aturan makan, janganlah kalian memakan harta diantara kalian dengan cara yang bathil, dengan cara yang salah, dengan judi, menipu, riba, dan cara-cara lainnya yang tidak disyariatkan dan diperbolehkan oleh Allah Azza Wa Jalla.

Pertnyaannya, pernahkah kita belajar untuk tau mana yang boleh mana yang tidak boleh, kecuali perdagangan yang saling ridho diantara kalian.

Didalam surah Ali Imron ayat 130 Allah menyebutkan tentang makan lagi, supaya kita perduli bahwa kita diatur, tidak seperti Sapi, yang kadang kala ketika ia dilepas dari tali kekangnya, dia memakan rumput tetangga, dia makan jagung tetangga, itulah Sapi, dan Kambing pun seperti itu, bila tidak dijaga oleh pengembalanya, dia akan memakan sawah milik tetangganya, karna seperti itulah kambing, berbeda dengan kita manusia, yang mengerti akan aturan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا , Allah berulang kali memanggil kita, 89 kali Allah memanggil kita didalam Al-Quran Nur Karim, dengan sebutan يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا , Wahai Orang-orang yang beriman, kalian jangan memakan riba, jangan. Jangan memakan Riba yang berlipat lipat ganda.

Sebagian orang berfikir jika tidak berlipat ganda maka boleh, namun kenyataannya semua riba akhirnya berlipat ganda.

Hanya butuh proses agar rumah anda disita, hanya butuh proses agar mobil yang anda beli dengan cara riba itu disita, hanya butuh semua riba itu berakhir dengan berlipat ganda, dan sudah terbukti.

Allah memerintahkan agar kita bertaqwalah kepada-Nya jika kita ingin meraih kesuksesan. Di bulan Ramadhan, sebulan penuh kita dididik untuk bertaqwa, dididik untuk bisa mengontrol makanan kita, akankah setelah Ramadhan kita makan riba kembali ? kita makan harta saudara kita ?

Ahibbati Fillah, Rasulullah Salallahu’alaihi Wa Sallam mengatakan

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

“Akan datang suatu masa pada umat manusia, mereka tidak lagi peduli dengan cara untuk mendapatkan harta, apakah melalui cara yang halal ataukah dengan cara yang haram”. [HR Bukhari].

    Hadist diatas adalah gambaran, bagaimana tidak perdulinya lagi seseorang darimana sumber penghasilan yang ia dapatkan, apakah halal atau haram, didalam fikirannya terpenting ia bisa makan, terpenting ia bisa hidup, dan sepertinya zaman itu telah tiba.

    Kita bisa melihat manusia-manusia yang tidak peduli, seperti seseorang yang memakan riba, yang bekerja dibank riba, yang bekerja ditempat-tempat riba lainnya.

    Ketika dinasehati, mungkin ia menjawab dengan alasan sulitnya mencari pekerjaan, sulit mencari yang halal.

Ahibbati Fillah, salah satu dampak dari memakan sesuatu yang haram termasuk Riba dan yang lainnya adalah sulitnya mencari pekerjaan yang halal, sebabnya ialah ulah kita sendiri.

Allah Azza Wa Jalla Berfirman didalam surah An-nisa didalam ayat 160-161, yang menceritakan tentang orang-orang Yahudi. 

فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا

‘’Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah.’’

 

وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ ۚ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

’’Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.’’

    Mungkin jika ada diantara kita yang berfikir dan mengalami sulitnya mencari pekerjaan yang halal, mungkin diantara kita masih ada yang memakan riba, dirumah kita ada mobil riba, motor riba, atau bahkan rumah kita pun dari sesuatu yan riba. Sebagian yang dibawa atau dipakai untuk dimakan dan diberikan kepada anak-anaknya pun riba, lalu dia menganggap itu sesuatu hal yang remeh.

    Allah Azza Wa Jalla mengumumkan perang kepada pelaku riba, Allah Katakan didalam Surat Al-Baqarah Ayat 278

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman”.

 Dan Surat Al-Baqarah Ayat 279

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”.

    Bertaqwalah kepada Allah, tinggalkanlah sisa-sisa riba jika kamu merasa dirimu seorang muslim, jika kamu merasa dirimu orang yang beriman. Namun jika kamu seorang kafir, maka silahkan makanlah itu riba.

    Sekali lagi, jika kamu merasa dirimu beriman, merasa ber-KTP islam, mendirikan sholat, maka tinggalkanlah sisa-sisa riba.

    Namun jika kalian tidak melakukan itu, tidak peduli, menganggap diri merdeka, bebas memakan apa saja, silahkan... Allah tidak butuh dengan seorang hamba yang seperti itu, dan Allah katakan ‘’Umumkan kepada mereka, perang dengan Allah dan Rasul-Nya.

    Sungguh ketika Allah memberi penyakit kepada kita, pun kita tidak mampu melawannya, Allah beri kanker, kita tidak mampu melawannya, Allah beri penyakit apa saja kita akan lemah menghadapi semuanya.

    Dan para ulama mengatakan, ayat ini mengisyaratkan bahwa orang yang memakan riba akan medapatkan kematian yang suul khotimah. Allah biarkan dia dengan ketidak pedulian terhadap apa yang dimakannya, akhirya membuat dia berakhir dari kehidupan ini dengan suul khotimah.

    Ahibbati Fillah, kita masih meremehkan riba, menganggap selama tidak melakukan Zina, tidak memakan hak orang lain, dengan alasan hanya menjalankan pekerjaan, hanya mencatat, hanya menjadi saksi. Rasulullah Salallahu’alaihi Wa Sallam menjelaskan dalam sabda beliau ;

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.

 

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba.” Kata beliau, “Semuanya sama dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1598).

    Ahibbati Fillah, masihkah kita berfikir untuk memakan riba ? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لرِبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرُّجُلُ أُمَّهُ وَإِنْ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ

“Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً

“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali

    Namun ada yang berkata, kalau tidak pakai Bank bagaimana hidup kita ? maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman didalam surah Al Baqarah ayat 275 :

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Dan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba”.

    Orang-orang yang memakan riba akan dibangkitkan dari dalam kuburnya seperti orang gila, karena ketika diberi aturan, dia tidak mau dengan aturan, tidak peduli dengan aturan, seperi orang-orang gila, bahkan menantang, berhujjah, berdalil, berargumensi, namun silahkan...

    Allah Azza Wa Jalla telah memperingatkan dalam firman-Nya 

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ

 

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) gila.” (QS. Al Baqarah: 275).

    Jamaah Rahimakumullah, orang yang memakan sesuatu yang haram, doanya tidak akan dikabulkan.

Mungkin sebagian orang berfikir, kenapa di Indonesia, kenapa dibelahan dunia lainnya banyak muslim–muslim yang terhina, bukankah diantara mereka ada orang-orang sholeh, ada orang –orang yang baik, dimana dibulan Ramadhan mereka melakukan Qunut, mengangkat tangan, meminta kepada Allah Azza Wa Jalla, agar diberi pemimpin yang baik, agar diangkat kedzholiman dari negri nya, agar diangkat kehinaan dari umat islam, tapi seakan-akan Allah tidak mengabulkan doa kita, karena kita memakan sesuatu yang haram.

    Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ ».

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.'” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim no. 1015)

    Ahibbati Fillah, Rasulullah Salalallahu’alaihi wa Sallam mengatakan,

‘’Barangsiapa yang mengumpulkan harta dari yang haram, kemudia dia bersedekah, dia tidak akan mendapatkan pahala, dan dia akan menanggung dosa tersebut’’.

Sungguh dia akan menanggung dan mendapatkan dosa dari apa yang ia sedekahkan kepada orang lain dari sesuatu yang haram. Mungkin ia membangun Masjid, mungkin ia memberangkatkan orang lain untuk Umrah atau Haji, namun itu dari hasil yang haram, maka tetap hal tersebut tidak akan menjadi penghapus dosa-dosa baginya.

Ibnu Abbas berkata bahwa Sa’ad bin Abi Waqash berkata kepada Rasulullah Salalallahu’alaihi wa Sallam “Ya Rasulullah, doakanlah aku agar menjadi orang yang dikabulkan doa-doanya oleh Allah.” Apa jawaban Rasulullah Salalallahu’alaihi wa Sallam, “Wahai Sa’ad perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya. Dan demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amalnya selama 40 hari dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba, maka neraka lebih layak baginya.” (HR At-Thabrani)

Kita biasa membaca Rabbighfilii, Warhamni, Wajburni,... disetiap sholat kita, namun didalam perut kita ada yang haram, tentu tidak akan diterima, Subhanallah. Seorang tabiut tabi’in mengatakan ‘’ kalau kau sholat, berdiri seperti sebuah tiang, tidak bergerak, semalam suntuk, tidak akan bergunan bagimu, sampai engkau melihat yang diperutmu, apakah itu halal, apakah itu haram.

Seorang dari generasi tabi’in lainnya pun mengatakan “Sesungguhnya syaitan tidak menyukai kepada seorang anak muda yang tumbuh besar dalam ketaatan kepada Allah, dikatakan syaitan akan berkata kepada pasukannya ‘’engkau perhatikan, makanan dia dari mana, kalau ternyata makanannya dari cara yang buruk, syaitan mengatakan ‘’biarkan, tidak perlu menggoda orang yang seperti itu, dia ingin berlelah-ria dalam beribadah, sudah cukup, dia sendiri yang membuat amalannya akhirnya tertolak, dengan dia memakan yang haram, tidak berguna ibadah tersebut.

Ada sebagian ulama mengatakan, ada 1 perbuatan yang syaitan sangat menyukainya, yaitu syaitan menggoda orang-orang untuk memakan sesuatu yang haram, untuk bekerja ditempat yang haram, lalu setelah dia bekerja ditempat yang haram, mendapatkan penghasilan dari yang haram, kalau dia menikah, menikah dari yang haram, kalau dia berbuka puasa, berbuka dari yang haram, kalau dia berhaji, haji dengan sesuatu yang haram, dan syaitan tidak perlu menggodanya lagi, karna semua nya telah tertolak. Maka dari itu apakah pantas bagi kita untuk tidak peduli lagi terhadap sesuatu yang akan kita makan ?

Untuk ibu-ibu yang ada dibelakang, yang sedang mendengarkan, engkau yang dirumah, yang menerima hasil kerja suami, engkau katakan kepada suami mu, ‘’Wahai suamiku, aku dan anak-anakku, siap menahan lapar didunia, siap berpuasa senin-kamis, siap puasa daud, tapi kita tidak siap untuk, memakan api neraka”.

Allah Azza Wa Jalla berfirman di dalam Surat Al-Baqarah Ayat 172

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

”Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah”.

    Ahibbati Fillah, Ramadhan telah berlalu, dengan segala suka dan dukanya, sebagian bertanya, bagaimana kita tau apakah ibadah di bulan Ramadhan kita diterima, bagaimana kita tau apakah ibadah sholat malam kita diterima, bagaimana kita tau mendapatkan Malam Lailatul Qadar, jikalau engkau dihari ini, dan selanjutnya, menjadi lebih baik dari sebelumnya, maka semoga Allah Azza Wa Jalla menerima amalan kita.

    Ahibbati Fillah, Allah Azza Wa Jalla Berfirman ;

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina“. (QS. Ghafir: 60)

    Berdoalah kepada Allah Azza Wa Jalla, pasti Allah kabulkan dengan syarat apa-apa yang kita makan adalah sesuatu yang halal.

-

-

-

Allaahumma innii as-alukal hudaa wat tuqaa wal ‘afaafa wal ghinaa

(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketaqwaan, keterjagaan, dan kekayaan)

    Qālā rabbanā ẓalamnā anfusana wa il lam tagfir lanā wa tar-ḥamnā lanakụnanna minal-khāsirīn 

 (Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi)

    Robbanaa Aatinaa Fid Dunyaa Hasanah, Wa Fil Aakhiroti Hasanah, Wa Qinaa ‘Adzaaban Naar

(Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka)

    Taqobbalallahu minna wa minka

(Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).”

 

    Minal ‘aidin wal faizin

(Semoga kembali dan raih kemenangan)