Pernahkah anda mendapati momen di mana seorang wanita sudah menahan gemeretak di giginya. Karena menanti kedatangan sang suami di malam hari? Belum sampai suaminya menginjakkan kaki di rumah, sang istri sudah menyiapkan sederet pertanyaan dan umpatan ke suami. Sehingga ketika suami tiba di rumah, kemarahannya meluap.

Ketahuilah, wahai Saudariku. Kehadiran suami setelah seharian lelah dengan pekerjaan dan hal menyibukkan lain di luar rumah tidak sepatutnya disambut dengan pelbagai pertanyaan yang memancing ketidaknyamanan. Hindari dari bertanya “Dari mana” yang mengandung kecurigaan. Berusahalah mengganti pertanyaan dengan bentuk pelayanan kita kepada pasangan 

“Engkau ingin apa wahai kekasihku?”

“Adakah yang mungkin bisa kuhidangkan untukmu mas?”

Jika ini yang dilakukan para istri di hadapan suaminya, niscaya ia akan dapati timbal balik berupa rasa cinta dari sang suami. Kau akan dapati suamimu ketika makan diluar begitu kangen dengan sajian rawon yang meski rasanya tak seberapa. Ia begitu rindu hangatnya sambutanmu, sampai merasa hambar dengan sambutan orang di luar sana.

Sebaliknya, pernah saya dapati kisah suami istri yang hampir tidak pernah akur saat berjumpa. Bahkan sang suami memilih untuk pulang menjelang larut dibandingkan harus bertengkar dengan istrinya di hadapan anak-anak. Setelah ditelisik, sebabnya remeh sekali, bahwa sang suami tidak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan sang istri yang terus menerus mencurigai. Pun sang istri merasa perlu waspada karena suaminya pulang malam. Hal seperti ini tidak akan usai, sampai salah satu atau keduanya bersikap dengan sikap yang baik.