“Ku coba untuk merenungi bukti-bukti kebenaran Tuhan subhanahu wa ta’ala, dan ku temukan buktinya lebih banyak dari kerikil yang dihempaskan di muka bumi, dan diantaranya :

Manusia sering kali menyembunyikan apa yang Allah benci dari kesehariannya, namun lambat laun Allah tampakkan apa yang ia tutupi. Orang-orang akan membicarakan keburukan tersebut meski mereka tidak melihatnya, atau terkadang Allah berikan ia penyakit yang menyingkap apa yang telah ia sembunyikan, dan menjadi jawaban atas apa yang selama ini dia tutupi dari dosa-dosanya.Maka dengan demikianlah orang-orang mulai mengetahui bahwa dia telah tergelincir kedalam kemaksiatan, dan tidaklah berguna sama sekali apa yang selama ini telah ditutupi dan sembunyikan, semua itu sia-sia. 

Demikian pula dengan mereka yang menyembunyikan amalan baiknya. Allah singkap baginya apa yang telah dia sembunyikan, dan orang-orang mulai terbiasa membicarakan kebaikan-kebaikannya, sampai-sampai mereka menyangka bahwa yang ada padanya hanya kebaikan semata dan suci dari dosa. 

Maka ketahuilah Disana ada Tuhan yang tidak pernah menyianyiakan amalan HambaNya. Dan Hati manusia akan mengidentifikasi keadaan seseorang, dia akan memilih untuk mencintai atau malah membenci, menyanjung atau mungkin mencaci. Semua itu sesuai dengan apa yang dia sepakati dengan Allah. Maka cukuplah Allah sebagai penenang kesedihannya dan penjaganya dari segala keburukan. 

Tidaklah seorang Hamba memperbaiki apa-apa yang tampak dari nya dihadapan manusia dengan tanpa memperbaiki keadaanya dihadapan Allah kecuali Allah ungkap kenyataan(buruk)-nya dan Allah campakkan kehadapan orang-orang yang memujinya.”

Sumber : Shaidul Khathir (Ibnu Jauziy)