Tidaklah seorang Hamba bersimpuh tunduk beribadah di hadapan Allah kecuali setan akan mendatanginya dengan 2 cara : melalaikannya dari ibadah atau membuat mereka berlebihan dalam ibadahnya. Setan tidak peduli dari sisi mana dari kedua sisi tersebut yang nantinya akan berhasil. Namun pastinya mereka akan datangi setiap hati manusia dan menghalau mereka dengan 2 cara tersebut. 

Jika setan mulai mendapati kita dalam keadaan lesu, mulai kendor dalam semangat ibadah atau mulai bermudah-mudahan dalam ibadah. Mereka akan mengambil kesempatan ini untuk membumbuinya dengan kemalasan lain. Mereka akan mulai mencari-cari alasan untuk membenarkan keadaan tersebut. Mengaburkan pandangan kita agar hanya melihat kepada rahmat-Nya dan melupakan azab-Nya subhanahu wa ta’ala. Sehingga membuat kita meninggalkan kewajiban yang Allah perintahkan.

Namun sebaliknya, jika ia mendapati manusia yang sangat berhati-hati dari dosa, semangat dalam ibadah serta kokoh dalam keimanannya sehingga membuat mereka(setan) putus asa untuk menggodanya dari pintu yang pertama, maka setan akan menambah semangat tersebut dengan bumbu palsu dan bisikan-bisikan ; “amalanmu tidak cukup hanya sebatas ini, kamu bisa melakukan lebih lagi dan sudah seharusnya kamu beramal lebih banyak dari orang-orang pada umumnya, kalo bisa jangan tidur sepanjang malam dan dirikan tahajjud, kalo sudah waktunya berbuka puasa jangan berbuka dulu, kalo orang-orang pada umumnya mencuci tangan dan wajah dalam wudhunya 3 kali maka minimal kamu mencucinya 7x, bila perlu kamu mandi dulu baru kemudian melaksanakan shalat(padahal cukup dengan wudhu)” dan berbagai ragam tipu daya lainnya yang akhirnya membuat manusia melenceng dan melewati batas-batas yang telah Allah gariskan.

Mereka akan  membuat kita menjauh dari jalan Allah dengan langkah pertama dan menjadikan kita melenceng serta melewati batas dari tuntunan-Nya dengan tipu daya yang kedua. Sangat banyak diantara manusia yang terjatuh dalam tipu  daya tersebut. Dan tidaklah seorang pun berhasil menghindarinya kecuali mereka yang memiliki ilmu dan keimanan yang kuat, yang membentuknya menjadi pribadi yang proporsional dan Allah-lah penolong bagi kita semua.(faf)

 

Sumber : Sumber : Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah, Al-Wabilu Ash-Shaib min Kalami At-Thai, (Cet; 1, Kairo : Dar-Arrayyan At-Turats, 1987), hlm. 26-27.