Sudah makruf dalam tata laksana kerajaan, bahwa jika seorang tamu dipersilahkan duduk oleh rajanya, pertanda bahwa ia diterima sebagai tamu sang raja dan diperbolehkan untuk menyampaikan maksud tujuannya.

Dan didalam shalat, seseorang berdiri dihadapan Raja diraja (Allah) dengan tunduk dan khusyu’ di bawah keagungan-Nya. Merendahkan diri dengan hal-hal yang baik. Berdzikir kepada Allah azza wa jalla dengan macam dzikir yang diperintahkan. Membungkukkan badan ketika ruku’ di hadapan kebesaran dan keagungan-Nya. Menyungkurkan wajah ke tanah dengan sujud sebagai maksud merendah atas tingginya dzat Allah tabaaraka wata’ala.

Namun di saat duduk terakhir dalam gerakan shalat. Lihatlah bagaimana engkau dimuliakan dihadapan Rabb-mu! Tatkala Allah izinkan engkau duduk dihadapan-Nya, Allah perlihatkan kepadamu kesempurnaan penghormatannya, Allah muliakan engkau dengan salammu kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan kepada hamba-hamba-Nya yang shaleh. Sebagai sentuhan akhir yang manis, Allah tutup bacaan shalatmu dengan 2 kalimat syahadat dan shalawat kepada Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam makhlukNya yang paling mulia. 

Maka mintalah apapun dari kebaikan dunia dan akhiratmu disaat engkau sedang di posisi tersebut, yaitu sesaat sebelum engkau menyelesaikan shalatmu saat Raja dunia-akhiratmu persilahkan engkau duduk dan menyampaikan maksud kedatanganmu. 

 

Sumber : Prof. Dr. Abdul Sami’ Al-Anis, Ash-Shalah Rihlatu Al-Hubbi wa Asy-Syauqi, (Cet; 1, t.t : Dar-Arwiqa, 2017), hlm.72.