JIKA SESEORANG BERTAUBAT DARI DOSA YANG MENGHAPUS PAHALA(RIYA, SUM’AH DAN UJUB),

APAKAH ALLAH KEMBALIKAN PAHALA DARI AMALAN TERSEBUT?

 

Jika amalan yang dikerjakan sejak awal diniatkan kepada selain Allah, maka taubat semata tidak cukup untuk mengembalikan nilai pahala dari amalan tersebut. Taubat hanya menjadi penetralisir dari dosa yang disebabkan. Maka amalan itu tidak bernilai pahala, pun tidak terinfeksi dosa dengan taubatnya. 

Namun jika suatu amalan diniatkan ikhlas hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala kemudian ternodai dengan ujub, riya, dan sum’ah akan tetapi dia tersadar dan bersegera mengikrarkan taubat dan menangisi sesalnya, bisa jadi nilai amalannya Allah kembalikan seutuhnya ini pendapat pertama. Namun ada juga yang menyebutkan bahwa amalan tersebut tidak dikembalikan, alias terhapus(nihil) ini merupakan pendapat kedua.

Kedua pendapat ini bermuara pada pertanyaan; apakah kemurtadan menghapus seluruh amalan pelakunya karena “kemurtadannya” atau amalan baru terhapus karena pelakunya “mati dalam keadaan murtad”?. 

Para ulama terbagi menjadi 2 pendapat yang masyhur dalam pembahasan ini, sebagaimana yang diriwayatkan dari imam Ahmad. Untuk pendapat yang menyebutkan bahwa amalan terhapus karna kemurtadan pelaku secara mutlak, maka pendapat ini berpihak pada asumsi; kedua bahwa seluruh amalan kebajikan sebelum pelaku murtad, akan ter-reset ulang alias terhapus seluruhnya. 

Sedang pendapat kedua yang menyebut bahwa amalan baru terhapus jika pelaku meniggal dunia dalam keadaan murtad, ini mengarah kepada asumsi pertama; bahwa seluruh amalan yang dilakukan semasa islamnya(sebelum murtad) akan terpulihkan seutuhnya jika pelaku murtad bertaubat. Maka kaidah ini berlaku kepada amalan yang menjadi topik pembicaraan di tulisan ini.

Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah merasa tidak cukup hanya dengan dua pendapat tersebut dan mencoba menarik benang merah dari keduanya. Menurutnya, kebaikan dan keburukan merupakan dua hal yang saling berlawanan dan tidak akan bisa dipersatukan, keduanya akan saling mendominasi satu sama lain. Jika salah satu nya mendominasi seakan mengakuisisi bahagian lainnya dan bagian tersebut serasa tidak pernah ada. Maka jika seseorang mengerjakan kebaikan dalam kehidupanya, kebaikan itu akan mendominasi keburukannya. 

Setiap kali seorang hamba bertaubat kepada Allah, taubatnya terkonversi menjadi kebaikan(pahala) yang sangat besar, yang jika diakumulasikan mungkin akan bisa menutup bahagian pahala yang terhapus karena keburukan yang dikerjakan, bahkan bisa bernilai lebih dari itu. Jika seseorang jujur dan benar-benar berusaha dalam memurnikan taubatnya dari hatinya yang terdalam, Allah akan menghanguskan semua keburukan yang pernah dilakukan seakan tidak pernah terjadi apapa. “Karena seseorang yan bertaubat di sisi Allah dari dosa-dosa, menjadi suci seakan tidak pernah berbuat dosa sama sekali” (HR. Ibnu Majah dan Thabrani). 

Sumber : Sumber : Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah, Al-Wabilu Ash-Shaib min Kalami At-Thai, (Cet; 1, Kairo : Dar-Arrayyan At-Turats, 1987), hlm. 22-23.