Parenting Nabawiyah  ( 15 Kisah Pilihan Untuk Anak)

            Diantara metode yang digunakan untuk mendidik anak, menciptakan generasi-generasi yang baik, yang diajarkan oleh Allah dan Rasulnya shallallahu aliahi wasalam adalah dengan menceritakan kisah-kisah untuk diambil pelajaran darinya.

            Kita tahu bahwasanya sepertiga dari isi al-Quran adalah kisah-kisah Umat terdahulu. Kenapa? Karena cerita termasuk materi Pendidikan seseorang yang penting karna itu lebih membuat orang lebih tertarik dan membekas di hati mereka. Para Ulama pernah berkata “kisah-kisah adalah tentara  Allah untuk menetapkan hati kepada siapa saja yang Allah kehendaki”

            Kita lihat mereka para musuh Allah membuat proyek besar-besaran utk membuat film-film sebagai senjata pamungkas sebagai propaganda, sehingga kita kaum muslimin terutama anak-anak terpengaruh dengan mudahnya tanpa kita sadari, baik ucapan, perbuatan, bahkan keyakinan. Maka sudah seharusnya para orang tua belajar bagaimana cara menceritakan kisah-kisah teladan baik dalam al-Quran maupun Hadist sesuai dengan bahasa yang mereka pahami, sehingga mereka mendapatkan faedah dan membentuk pola pikir mereka yang sesuai dengan tuntunan syariat.

            Dan berikut adalah kisah-kisah yang sudah sepatutnya diceritakan kepada anak-anak kita:

1. Kisah Nabi Yunus dan Ikan Paus

Anak-anak suka tuh kisah-kisah yang berhubungan dengan binatang, maka kita ceritakan bagai mana kisah yusuf yang ditelan oleh ikan paus. Nabi yunus terjebak didalam kegelapan perut ikan paus, dan di kegelapan lautan serta dikegelapan malam. Nabi Yunus berada di perut kan berhari-hari ada yang mengataka 3 hari dan sebagainya.

Kita ajarkan kepada anak, Hanya Allah yang bisa menyelamatkan kita, dan kita ajarkan kepada anak kita kekuatan doa dan istighfar. Lihat Nabi Yunus, Beliau berdoa, memohon ampun agar beliau di bebaskan dari perut ikan dan kegelapan lautan.

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ (88)

Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zalim.” Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al Anbiya’: 87-88)

 

2. Nabi Musa dan Ular

Ceritakan kepada anak tentan raja mesir yang dzolim dan sombong. Ketika Nabi Musa mendakwahkan tauhid kepada Firaun. Lalu Nabi Musa ditantang melawan penyihir-penyihir terbaik, sampai Nabi Musa merasa takut sehingga Allah memerintahkan Nabi Musa untuk melemparkan kayunya, lalu berubah menjadi Ular dan memakan ular-ular yang sejatinya hanya tali yang setan kamuflasekan seperti ular. Para penyihirpun beriman kepada nabi Musa dan membuat fir’aun murka. Tapi mereka tidak takut karna iman telah menancap di dada-dada mereka.

Kita ajarkan bagaimana kebesaran Allah, kita ajarka agar anak tiak takut mengatakan kebenaran walau itu pahit, dan kita ajarkan kepada anak bahwa Allah tidak pernah melupakan hamba-hambanya yang bertakwa.

Kisah Nabi Musa dan para Penyihir Firaun terdapat surat al-A’raf ayat 113-125.

 

3. Kisah Nabi Sulaiman dan Burung Hud-Hud

Ketika Itu, Nabi Sulaiman memerintahkan pasukannya untuk bersiap-siap. Kemudian, ia mengadakan pemeriksaan barisan tentaranya. Dan ia mendapati burung Hud-hud tidak ada di dalam barisan tentaranya. Nabi Sulaiman berkata, “Mengapa aku tidak melihat hud-hud ? Apakah dia termasuk yang tidak hadir ?Sunguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang jelas,” (QS. An-Naml 20-21).

 

Ketika burung Hud-hud datang, Nabi Sulaiman berkata, “Ke mana kamu pergi ?” Hud-hud menjawab, “Sebenarnya aku telah melakukan penerbangan secara diam-diam. Aku ingin melaporkan sesuatu yang penting. Aku pergi ke negeri Saba’ yang terletak di negara Yaman. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang ratu yang bernama Ratu Balqis.


Ia duduk di singgasana yang besar. Aku melihat Ratu Balqis bersama pengikutnya menyembah matahari. Mereka bersujud kepada matahari ketika matahari terbit dan ketika. Mereka telah menyekutukan Allah. Setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka. Hal itu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak mendapat petunjuk dan tidak menyembah Allah.”

 

Nabi sualaiman berkata “Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk yang berdusta.” Kemudian, Nabi Sulaiman meminta kertas dan pena untuk menulis surat.


Selanjutnya, ia memberikan sepucuk surat kepada burung Hud-hud untuk diberikan kepada Ratu Balqis. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan.” Burung Hud-hud pun terbang ke Negeri Saba.
Demikianlah, Nabi Sulaiman menggunakan pasukannya untuk berdakwah. Ia senantiasa mengajak manusia yang lain menyembah Allah swt.

 

Kita ajarkan tuh pada anak kita, Bagaimana seekor burung pun ikut prihatin ketika manusia tidak menyembah Rabb Alam Semesta yaitu Allah. Kita ajarkan pula tentang bagaimana seharusnya kita sebagai umat islam, menyampaikan kebenaran mengajak dan berdakwah di jalan Allah. Kita ajarkan pula kepada anak kita, berapapun harta yang kau miliki, betapa cantik dan gagah tubuh yang engkau punya, semua itu akan sia-sia jika kau tidah menyembah Allah yang Esa.

 

4. Cerita Nabi Ibrohim dengan Ayahnya.

Cerita selanjutnya yang hendaknya kita ceritakan kepada anak kita ketika ia mulai remaja, ketika umurnya mulai menginjak yang ke sepuluh. Kita ceritakan tuh, kisah Nabi Ibrahim yang mendakwahi ayahnya dengan tutur kata yang lembut, yang mendakwahi keluarganya sebelum mendakwahi yang lainnya.

Saat Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pulang ke rumahnya, ia menemui ayahnya dan berkata, “Wahai ayahku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun?–Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.–Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.–Wahai ayahku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, sehingga kamu menjadi kawan bagi setan.” (QS. Maryam: 42-45)

Namun ayahnya menolak ajakan anaknya Ibrahim ‘alaihissalam. Sambil marah ia berkata, “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama”. (QS. Maryam: 46)

Tetapi Nabi Ibrahim bersabar menghadapi sikap keras ayahnya, bahkan membalasnya dengan sikap sayang dan berbakti, ia berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.—Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”. (QS. Maryam: 47-48)

Kita ajarkan kepada anak kita tentang tauhid, tentang adab dalalam berbicara dan menasehati orang yg lebih tua dari mereka, sehingga ia menjadi anak yang tau akan adab dan akhlak yang mulia.

5. Kisah nabi Yusuf dan Wanita Elit di Mesir.

Ketika anak mulai remaja biasanya sudah timbul ketertarikan dengan lawan jenis. Nah di sini kita bercerita tentang Nabi Yusuf dengan Zulaikha. Kita ceritakan tuh, bagaimana besarnya fitnah jika kita berduaan dengan lawan jenis. Kita ajarkan seharusnya seorang bersikap dengan yang bukan mahrom, kita ceritakan bagaimana perjuangan Nabi Yusuf dalam menghadapi fitnah yang besar. Ketika ditawarkan wanita yang cantik jelita, rupawan dan bangsawan, dan bagaimana Allah menyelamatkan Nabi yusuf alaihi salam.

Diringkas dari kajian Ust Syafiq Riza Basalamah dengan tema “parenting Nabawiah 2 (15 kisah untuk anak)”

Ditulis oleh: Rayhan Ali Arifin