Ruh yang terinfeksi dengan dosa jauh lebih berbahaya bagi seorang insan dari pada tubuh yang ditimpa penyakit. Ruh-mu merintih setiap kali engkau jatuh dalam kemaksiatan, mungkin benar tubuh menikmati lezatnya maksiat. Namun andai kau sadari, ruhmu pada saat itu melenguh adu kepada Allah jalla-jalaaluh..

Bayangkan jika seandainya engkau ditempatkan dalam sebuah penjara yang mengurung dirimu dalam dinding dengan luas 1x1 meter? Apa yang kira-kira akan kamu rasakan? Seberapa gusar hatimu pada saat itu?

Maka begitupula dosa, mengurung hati pelakunya, dan membuatmu gusar tak karuan. Sebagaimana firman Allah : 

وأحطت به خطيئته 

“Dan dosa-dosanya menyelimuti dirinya.” (Al-Baqarah : 81)

Kalaulah seandainya surga dan neraka tidak pernah ada sebelumnya. Sungguh dosa itu sendiri sudah menjadi nerakanya ruh ini. Tepat kiranya jika dikatakan bahwa dosa adalah azab yang berat bagi ruh manusia itu sendiri.

Terlepas dari semua itu, kita memiliki Rabb(Tuhan) tempat mengadu, keperaduan-Nya dosa-dosa melebur. Bagaimana tidak? Nama dan sifat-Nya yang agung Al-Ghafur, Al-Ghaffar, Al-‘Afuw semuanya bermuara pada satu makna yaitu Yang Maha Pengampun. Langitkan istighfarmu agar Allah retak-hancurkan dinding dosa yang selimuti hatimu.

 

Sumber : Ali Ibn Jabir Alfiifi, Liannaka Allah, (Cet; 18, Dar-Alhadzorah: Riyadh, 1439 H). hlm.155.