Untukmu yang Baru Menikah

 

Allah jalla jallaluh menganugrahkan begitu banyak rezeki kepada setiap hamba-hamba-Nya, tanpa terkecuali, semuanya Allah berikan. Diantara anugrah yang Allah besar adalah Allah jadikan manusia dibumi ini sebagai makhluk yang berpasang-pasangan, Allah jadikan wanita, Allah juga jadikan lelaki sebagai pasangan hidupnya.

 

Allah jalla jallaluh berfirman:

وَمِن كُلِّ شَىْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

 

“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.”  [QS. Adz Dzariyaat (51):49].

Allah juga yang menjadikan setiap butiran cinta yang melekat pada sanubari insan, menjadikan mereka suka satu dengan yang lainnya. Allah juga yang menjadikan rasa suka diantara mereka, yang mana dengan rasa suka itu bisa menjadikan jatuh cinta terhadap pasangan.

 

Allah jalla jallaluh berfirman:

وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًۭا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةًۭ وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” [QS. Ar. Ruum (30):21].

Semuanya adalah rahmat dan nikmat yang patut kita syukuri, maka ketika dua insan merajut cinta, terkhusus untuk mereka yang baru menyempurnakan sebagain agamanya, seolah semuanya terasa indah dan elok.  Kekurangan demi kekurangan seolah tak pernah muncul dalam keseharian mereka.

Mereka masih menikmati bahtera yang terus berlayar disungai yang luas, disuguhkan dengan pemandangan serba hijau, kicauan burung-burung mungil terus berdendang, kupu-kupu indah terus terbang dan berhamburan bersatu padu diatas rerumputan hijau.

Indah memang, semuanya begitu terasa indah ditambah dengan bunga-bunga mekar yang menyita pandangan, semuanya terkesan indah tanpa ada kekurangan. Tapi dengan bergulirnya waktu sedikit demi sedikit semua itu meleleh, semuanya mulai cair.

Cinta yang dulu dibangun tak seindah dulu, kini mulai timbul rasa hambar. Tapi itulah kehidupan, dulu sebelum mendapatkanya seolah dia adalah manusia satu-satunya berkilau layaknya bintang-bintang bertaburan menghiasi pekatnya malam.

 

Akhi-ukhti rahimakallah. Islam ini adalah agama yang real, maka sebagai muslim harus bisa menerima realita sebenarnya. Maka ketika bahtera muali meninggalkan sungai luas itu, kini ia berada disamudra tak bertepi, badai dahsyat mulai muali menghantam bahtera, angin berhembus begitu kencang. Menjadikan bahtera itu terombang-ambing tanpa arah.

Maka pada saat itu mulai banyak para penumpang bahtera terpaksa harus merasakan bahteranya karam. oleh karenanya ada beberapa solusi yang bisa dilakukan sebelum bahtera itu benar-benar karam disamudra tak bertepi itu.

Pertama jangan banyak berdebat, ketika bahtera mulai tergonjang-ganjing, jangan melakukan banyak perdebatan, jadilah lebih dewasa dalam menyikapi masalah yang sedang dihadapi itu, jangan mudah terpancing gejolak emosi. Harus bisa menahan diri.

Kedua bantu istri didapur, bukan suatu aib, jika seorang suami melagkahkan kedua telapak kakinya menuju dapur, ketika istri sedang goreng-goreng, maka ambilah tangannya dan lakukan itu secara bersama, bantu dia dalam setiap menyelesaikan pekerjaan dapurnya.

ketiga maafkan dia, dua insan menyatu dalam satu atap, dengan latar belakang yang berbeda, maka tak menutup kemungkinan akan terjadi perbedaan dan percekcokan, ketika masalah itu mulai mucul, kemudian dia melakukan kesalahan maka maafkanlah dia. Memaafkan bukan berarti kalah tapi itu adalah suatu kebaikan.

Keempat saling mendoakan,  disepertiga malam, bentangkanlah sajadah itu, mulailah ambil wudhu kemudian lanjutkan dengan shalat bermunajat kepada Allah, mulailah lantunkan do’a-do’a itu disepertiga malam. Sebut nama dia dalam setiap untaian do’a.

 

Wallahu a’lam bi shawab.

Oleh : Ustadz DR Syafiq Riza Basalamah.

Penyusun: Fitra Aryasandi.