Berlemah lembutlah dan jangan mudah marah

 

          Jelas sekali Allah ta’ala menciptakan wanita dari tulang rusuk yang bengkok, sampai kapanpun tulang itu tidak akan pernah bisa lurus, maka ketika berusaha untuk meluruskannya yang ada akan patah, karena mengayomi seorang wanita tidak bisa dengan cara paksaan. Harus selalu berlemah lembut dalam menghadapi setiap gerak-geriknya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ, لَنْ تَسْتَقِيْمَ لَكَ عَلَى طَرِيْقَةٍ, فَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اِسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيْهَا عِوَجٌ, وَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهَا كَسَرْتَهَا وَكَسْرُهَا طَلاَقُهَا

“Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, ia tidak bisa lurus untukmu di atas satu jalan. Bila engkau ingin bernikmat-nikmat dengannya maka engkau bisa bernikmat-nikmat dengannya namun padanya ada kebengkokan. Jika engkau memaksa untuk meluruskannya, engkau akan memecahkannya. Dan pecahnya adalah talaknya.”(HR. Muslim)

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (an-Nisaa : 1)

Janganlah menjadi seorang yang mudah menumpahkan kemarahan, tahan setiap amarah yang senantiasa hendak keluar dari ini, karena sejatinya orang yang kuat itu adalah dia yang bisa menahan dan tidak melampiaskan amarahnya.

 

Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda:

“لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ“

“Orang yang kuat bukanlah jago gulat, namun orang yang kuat adalah yang mampu menahan diri manakala marah”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.

Kala itu ada sahabat yang mendatangi Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam, kemudian dia meminta kepada Nabi sebuah wasiat. Kemudian Nabi mewasiatinya  dengan ucapan “jangan marah, jangan marah, jangan marah”. Itu wasiat indah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam kepada sahabatnya.

 

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَوْصِنِيْ ، قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). فَرَدَّدَ مِرَارًا ؛ قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

 

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” [HR al-Bukhâri].

Allah ta’ala berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap kasar lagi berhati keras, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” [Ali Imron: 159]

Syeikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata mengenai ayat diatas:

“Maknanya: Dengan sebab rahmat Allah kepadamu (wahai Muhammad) dan sahabat-sahabatmu, maka Allah ta’ala menganugerahkan nikmat kepadamu sehingga engkau dapat berlemah lembut, rendah hati, halus dan berakhlak baik terhadap mereka, sehingga mereka bersatu bersamamu, mencintaimu dan menaati perintahmu.

“Sekiranya kamu bersikap kasar”, maknanya: Berakhlak jelek. “Berhati keras”, maknanya: Mengeraskan hati. “Tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”, karena ini membuat mereka lari dan marah terhadap orang yang memiliki akhlak jelek ini.

Maka akhlak yang baik termasuk modal utama dalam agama, yang dapat menarik dan memotivasi manusia kepada agama Allah, bersama dengan pujian dan pahala yang khusus bagi pemiliknya.

Adapun akhlak yang jelek dalam agama, termasuk sebab utama yang menjauhkan dan membuat marah umat manusia terhadap agama, bersama dengan celaan dan hukuman yang khusus bagi pemiliknya. Maka inilah Rasul yang maksum (terjaga dari dosa), namun Allah ta’ala berfirman kepada beliau tentang ini, bagaimana lagi dengan selain beliau?!

Bukankah termasuk kewajiban terbesar dan terpenting adalah meneladani akhlak beliau yang mulia dan bergaul dengan manusia sesuai perangai beliau shallallahu’alaihi wa sallam, yaitu perangai kelembutan, akhlak baik dan menyatukan hati demi menaati perintah Allah ta’ala dan menarik hamba-hamba Allah kepada agama Allah.

Kemudian (dalam lanjutan ayat) Allah ta’ala memerintahkan beliau shallallahu’alaihi wa sallam untuk memaafkan kesalahan mereka terhadap beliau dan memohonkan ampun atas kesalahan mereka kepada Allah ta’ala, maka dengan begitu beliau telah mengumpulkan dua kebaikan; pemaafan dan perbuatan baik.” [Tafsir As-Sa’di, hal. 154]

          Semoga kita bisa menahan amarah yang hendak meluap dari diri kita, dan semoga Allah menjadikan hamba bisa berlemah-lembut dimanapun dan kepada siapapun.

 

Wallahu A’lam Bishowab.

 

 

Oleh: Ustadz DR Syafiq Riza Basalamah.

Penyusun: Fitra Aryasandi.